S t o r y b y A n g k a s a P u t r a , S E
Ada benarnya juga yang dibilang si Sycil kalo terkadang orang yang kita cintai adalah orang yang membawa kita ke dalam kehancuran dan teman yang berbagi penderitaan dan menangis bersama kita adalah cinta yang ngga’ disadari sebelumnya. Kenapa gue baru nyadar sekarang ya? Padahal dulu gue sempat ngeledek Sycil waktu dia bilang ke gue soal itu setengah tahun yang lalu.
Tapi hari ini mata hati gue benar-benar terbuka. Mencintai Ingka sungguh sebuah kemubaziran cinta. Memang seharusnya gue ngga’ boleh berbicara seperti itu tapi gue ngga’ tahu harus ngomong apa dan gimana lagi setelah dengan mata kepala gue sendiri gue ngelihat mereka, Ingka dan Aldo sahabat gue dari semester satu, berciuman di ruang tamu rumah Ingka di pagi ketika seharusnya kami berdua pergi ke studio foto.
Sungguh dua buah penghianatan yang menakjubkan, seorang Ingka yang gue cintai selama ini dan seorang Aldo yang udah gue anggap seperti saudara sendiri, benar-benar berhasil bahkan sangat sukses ngebuat gue jadi seperti orang terbodoh di dunia. Seperti seekor keledai yang mati kelaparan di tengah padang rumput, seperti seekor ikan yang mati tenggelam di dalam air. Baiklah, selamat untuk kalian berdua.
Tapi biarlah, gue yakin dengan keputusan Yang Maha Cinta kalo ada hikmah yang besar di balik yang terhancur sekalipun, Amin.
Dan siangnya, masih dengan kepunah ranahan dan kekecewaan terbesar gue untuk arti sebuah kepercayaan, Sycil datang ngejemput gue dengan tanpa ekspresi turut berduka sedikitpun. Padahal jelas-jelas kalo dia orang pertama yang gue telfon buat ngasih tahu pemandangan akbar itu. Tapi itulah Sycil. Dia selalu tersenyum dan berusaha ngebahagian gue dengan canda-candanya yang khas ala originalnya dia yang cuma satu-satunya. Meskipun gue tahu kalo sebenarnya dia selalu peduli dan bahkan terlalu peduli terhadap apa-apa yang menimpa diri gue.
Tapi siang itu Sycil bukan ngejemput gue buat minta temenin ke mall ataupun ngajakin lunch bareng seperti biasanya. Melainkan pergi ke pemakaman salah seorang teman smu nya dulu, Gyala. Sycil bilang sih Gyala itu dulu adalah salah satu sahabatmya, pada waktu kelas satu smu yang hanya sebulan dikenalnya karena Gyala di drop out dari sekolahan lantaran berantem dengan salah satu guru bahasa Inggris mereka, yang kemarin malam telah pergi terlebih dahulu pindah ke rumah baru di mana bintang malam tinggal, disebabkan RacunSS yang biasa terdapat pada racun serangga cair. Diduga Gyala stress berat sehingga memutuskan jalannya sendiri untuk lebih dulu pindah ke rumah baru nya, rumah akhirat.
Ngga’ begitu lama setelah Sycil ngomel-ngomelin gue buat buru-buru tukar baju akhirnya siang itu kami berdua pun pergi ke pemakaman umum, tempat di mana Gyala dimakamkan.
Di perjalanan itulah gue ngerasa kalo Sycil seperti cinta yang ngga’ pernah gue sadari sebelumnya. Seperti yang dia bilang ke gue setengah tahun yang lalu. Memang gue dan Sycil udah lama kenal, kami bersahabat semenjak masih smp dan sampai sekarang. Yang pasti selama perjalanan gue ngerasa ada yang lain dengan perasaan gue terhadap Sycil, ngga’ seperti selama ini. Seperti perasaan gue waktu bersama-sama Ingka dulu.
Mungkin itulah yang dimaksud Sycil dengan “terkadang orang yang kita cintai adalah orang yang membawa kita ke dalam kehancuran dan teman yang berbagi penderitaan dan menangis bersama kita adalah cinta yang ngga’ disadari sebelumnya.”
Tapi apa mungkin kalo gue jatuh cinta ama sahabat gue sendiri? Kalo gue jatuh cinta ke Sycil? Entahlah.
Setelah sekitar seperampat jam perjalanan dengan menggunakan mobil Sycil akhirnya gue dan Sycil pun sampai juga. Seperti suasana pemakaman pada umumnya dimana orang-orang mengenakan semua yang serba hitam, gue ngelihat seseorang yang mungkin dari tadi merhatiin gue semenjak gue turun dari mobil.
Tadinya sih gue cuek aja dan berdiri manis diantara para pelayat lainnya yang juga menghadiri pemakamannya Gyala. Karena Sycil waktu itu terlihat sibuk membagi-bagikan air mata dan pelukannya kepada keluarga Gyala dan beberapa sahabatnya. Tapi setelah gue ngerasa ngga’ nyaman, yang dari tadi dilihatin orang yang duduk di dalam mobil sedan hitam itu, akhirnya gue nekad juga buat ngedeketin orang itu.
Dengan berjalan kaki dari tempat gue berdiri ke arah mobil sedan hitam itu, ke arah orang yang menatap gue sedari tadi itu, paling-paling hanya lima belas detik. Setelah itu, gue mengulurkan tangan ke dia sebagai maksud baik untuk berkenalan. Dengan nada pelan, gue perkenalkan nama gue ke dia. “Frischa”, ya begitu orang itu menyebut namanya sambil menyambut uluran tangan gue.
Gila…. Setidaknya kata-kata itulah yang gue teriak-teriakan di hati gue. Gimana gue ngga’ teriak kalo ternyata orang yang menatap gue itu adalah cewek yang begitu cantik dengan suara terlembut yang pernah gue denger. Iya Frischa memang benar-benar cantik. Dan ngebuat gue hampir jadi salah tingkah.
Kesempatan yang begitu langka itu jelas ngga’ gue sia-siain begitu aja. Hitung-hitung buat sedikit ngelupain apa yang udah dilakukan Ingka dan Aldo ke gue. Dengan speak-speak gue yang sedikit terlatih, gue pun menyerang dia dengan beberapa pertanyaan yang terkesan sedikit menginterogasi sehingga ngebuat kami berdua bertukaran nomor hand phone.
Ngga’ lama setelah itu Sycil pul mendekati gue dan Frischa menaikkan kaca mobilnya. Yang artinya waktu perkenalan gue siang itu dengan Frischa telah selesai. Sycil pun menggenggam tangan gue dan membawa gue serta menuruti langkahnya masuk ke dalam mobil untuk kembali nganterin gue pulang.
Dalam perjalan pulang, dengan perasaan yang bertambah aneh terhadap Sycil, gue pun mengingat-ingat perkenalan tadi. Dan gue piker biarlah Sycil ngga’ perlu tahu.
Dan ketika matahari dengan garangnya menyinari seluruh angkasa, di hari setelah satu minggu terlewati semenjak hari di mana gue mengubur dalam-dalam cinta gue ke Ingka bersama dengan pemakaman Gyala siang itu, akhirnya gue pun telah melupakan semua perasaan yang pernah tercipta oleh Ingka, Ingka dan Aldo.
Bisa jadi mungkin karena waktu-waktu yang diberikan Frischa. Satu minggu semenjak perkenalan di pemakaman itu kami habiskan dengan sms dan telfon-telfonan. Bagi gue sekarang, sedikit banyak Frischa udah ngebantu menyatukan kepingan-kepingan hati gue yang sempat berserak-serakan, yang membuyar oleh seribu kekecewaan.
Dan tibalah waktu yang ngebuat gue sedikit bingung. Bingung gimana harus menjelaskan ke Sycil kalo gue sekarang lagi dekat dengan seorang cewek dan ada janji makan malam nanti malam. Entahlah, rasanya gue seperti menghianati Sycil jika gue ngga’ memberi tahu perkara gue dan Frischa. Baiklah, gue berjanji dalam hati gue sendiri kalo gue akan membeberkan semua ini nantinya setelah makan malam gue dan Frischa. Lebih baik terlambat daripada ngga’ ama sekali.
Walaupun sedikit seperti dikejar-kejar rasa bersalah akhirnya gue putusin untuk pergi makan malam yang udah gue janjiin dengan Frischa.
Di dalam angkot, beberapa menit menjelang gue sampai ke te tampat makan malam yang gue dan Frischa sepakati, gue berubah pikiran. Ngga’ bisa, gue ngga’ boleh sampe ngga’ cerita ke Sycil. Karena gimanapun dialah yang selama ini ada dan selalu ada di saat gue terpuruk, jatuh dan menghampa di dalam kepingan-kepingan hati yang membuyar. Lantas bagaimana mungkin gue bisa-bisanya ngga’ nyeritain semua ini ke Sycil? Ngga’ nyeritain hubungan yang ada di antara gue dan Frischa.
Entahlah, setelah memutuskan itu semua, gue ngerasa lega. Lega banget. Bahkan ngga’ cukup pas kalo hanya kata lega yang gue nyatain.
Gue pun turun di tengah jalan dan segera naik angkot yang berbalik arah menuju rumah Sycil. Lagian gue pikir masih ada lima belas menit lagi sebelum jam setengah delapan malam. Sebelum waktu yang kami, gue dan Frischa, sepakati untuk makan malam.
Di depan rumah Sycil gue pun menarik nafas dalam-dalam. Berharap Sycil ngga’ marah dengan semua yang gue certain nantinya. Kalo sebenarnya gue mungkin sebentar lagi akan dapat pengganti Ingka.
“Baiklah Sycil, begini…”. Dengan kalimat itulah gue memulai cerita gue di depan pintu setelah sebelumnya Sycil membukakan pintu rumahnya yang gue gedor-gedor dua menit sebelumnya. Tapi seperti Sycil yang memang Sycil, dia langsung menutup telinga dengan tangannya pertanda dia ngga’ mau mendengarkan penjelasan apa-apa dari gue.
Gue tahu itu bukanlah sikap yang menunjukan kalo dia sedang marah melainkan emang Sycil ngga’ pernah mau menerima siapapun dan bercerita dengan siapapun sebelum duduk di ruang tamunya. Dan untuk gue yang udah sangat dekat, ngga’ apa-apa kalo di kamar tidurnya. Meskipun gue jarang banget untuk mau masuk ruang pribadinya itu.
Tapi kali ini ngga’. Gue ngerasa lebih baik gue menceritakan di kamar tidurnya buat jaga-jaga siapa tahu Sycil bakalan marah-marah atau apalah yang menunjukkan kekesalannya ke gue.
Tanpa ragu-ragupun gue manaiki anak tangga menuju kamarnya. Dan dengan keheranan di wajah Sycil, diapun mengikuti tepat dibelakang langkah gue disertai kerutan-kerutan segar di keningnya.
Kamar Sycil yang ngga’ dikunci memudahkan langkah gue buat segera menerobos masuk dan duduk di atas tempat tidurnya. Sycil yang dari tadi masih membisu akhirnya ikut duduk di kursi meja belajarnya, tepat di depan gue. Hanya satu detik sebelum gue melancarkan niat gue buat ngasih tahu ke Sycil gerangan apa yang membawa gue malam-malam menerobos ke kamar tidurnya, mulut gue tiba-tiba terkunci rapat saat gue ngelihat foto-foto yang berserakan di tempat tidur Sycil. Biji mata gue seakan ingin keluar dengan sesegera mungkin untuk memasati dengan jelas, benarkah di antara foto yang berserakan itu salah satunya adalah foto Frischa?
Mata Sycil yang begitu tajam seperti elang kelaparan itu masih mengawasi gerak-gerik gue yang mungkin ngga’ dia mengerti sama sekali. Apalagi disaat gue mengambil beberapa foto yang salah satunya adalah foto Frischa itu. Iya benar ini adalah Frischa, hati gue menjerit seketika saat gue melihat dalam-dalam ke foto Frischa. Walaupun baru ketemuan sekali pada saat pemakaman Gyala itu tapi gue yakin kalo wajah, alis, mata, hidung, bibir dan senyuman ini adalah seratus sembilan belas persen milik Frischa.
Kebingungan yang seketika membanjiri ruang-ruang hati gue yang tanpa gue sadari ngebuat gue terdiam seperti dihentikan oleh waktu. Gimana mungkin foto Frischa ada pada Sycil? Apakah mereka berteman? Lantas kenapa selama ini gue ngga’ tahu kalo Sycil punya temen seorang Frischa? Lalu gimana dengan makan malam gue? apakah gue harus menceritakan ke Sycil sekarang juga mengenai Frischa? Jangan-jangan kalo gue ceritain sekarang, Sycil bisa marah-marah kalo dia tahu gue mau makan malam dekat dengan salah satu sahabatnya, Frischa, tapi dia ngga’ dikasih tahu sama sekali sebelumnya, sedikitpun.
Pertanyaan-pertanyaan ini harus terjawab. Tapi nantilah, setelah gue makan malam dengan Frischa.
Dalam keadaan sembilan puluh sembilan persen akhirnya gue bilang ke Sycil mengenai acara makan malam gue yang tinggal dua menit lagi itu.
“Sycil, gue mau bilang ke elo kalo gue dua menit lagi ada janji makan malam dengan seorang cewek. Gue harap elo ngga’ marah karena gue ngga’ ceriata apa-apa sebelumnya ke elo”.
“Terus kenapa elo masih disini? Iya, gue ngga’ apa-apa kok. Gue bisa ngertiin elo. Asalkan elo bahagia, gue juga bahagia”.
“Ma kasih ya Cil, elo emang sahabat gue yang paling baik sedunia. Kalo gitu gue pergi dulu ya, ntar gue janji, sepulang dari makan malam gue telfon lo dari rumah. Tapi lo jangan tidur dulu, tungguin gue ya Cil”.
“Oke oke, gue janji me elo gue akan nungguin kabar dari elo. By the way, kalo elo mau elo bisa pake’ mobil gue kok”.
Gue peluk Sycil erat-erat pertanda perasaan gue sedikit lega yang disertai kecupan Sycil di pipi gue.
Di tempat makan malam, dari kejauhan gue bisa ngelihat kalo Frischa udah nungguin gue. Semoga Frischa mau ngerti ntar, kalo naek angkot kadang-kadang ngebuat cewek harus bijaksana untuk menunggu lebih dulu di meja makan daripada cowok pada beberapa kasus janjian seperti gue ini.
Kefeminiman seorang Frischa pada acara makan malam itu ngebuat waktu terasa begitu anggun dan bersahabat dengan gue. Canda tawanya ngebuat gue jadi lupa apa itu arti dikhianati.
Disela-sela makan malam, kami bercerita banyak hal. Dan yang paling gue ingat ketika Frischa bilang kalo gue harus membiarkan hati gue mengalir mengikuti anak sungai perasaan gue yang terdalam di mana hati gue bisa menemukan kebahagiaan sejati seperti cahaya abadi yang bersinar tiada hentinya.
Meskipun begitu, sesekali gue teringat Sycil. Ya wajar saja, mungkin karena gue udah janji ke Sycil kalo gue mau ceritain semuanya tentang Frischa begitu acara makan malam ini selesai.
Tepat jam sembilan malam kami berduapun, gue dan Frischa, pulang ke rumah masing-masing. Frischa malam itu pulang dengan menggunakan taksi dan gue seperti ketika pergi tadi, menggunakan angkot.
Tetapi di dalam perjalanan pulang Sycil sms gue dan bilang kalo gue sebaiknya menceritakan semuanya seperti janji gue tadi di rumahnya aja. Ternyata Sycil benar-benar penasaran.
Di rumah Sycil, dia udah menunggu di muka pintu rumah dan berlari-lari kecil menyeret tangan gue untuk segera menceritakan semuanya di kamar tidurnya begitu gue menginjakan kaki di teras rumahnya.
Akhirnya, waktu yang telah gue janjiin ke Sycil pun tiba.
“Baiklah Sycil gue yang manis, gue akan ceritain ke elo semuanya dari awal”.
Begitulah gue mulai menceritakan ke Sycil gimana-gimananya gue bisa berkenalan dengan Frischa sampe akhirnya janjian makam malam tadi. Sedikit cemas gue pun mengambil salah satu foto yang masih berserakan di tempat tidur Sycil tadi. Foto itu adalah foto Frischa. Sebelumnya gue sempat nanyain ke Sycil kenapa foto-foto itu berserakan di tempat tidurnya dan Sycil bilang dia Cuma ingin menata ulang foto-foto tersebut di album foto sekalian melihat-lihat foto-foto teman-temannya yang udah jarang banget ketemu itu.
“Cil, maaf. Ini foto Frischa kan? Sebenarnya Frischa lah cewek yang gue ceritain itu. Elo ngga’ marah kan Cil?”
Sycil seketika terdiam. Badannya berkeringat dan wajahnya memucat pasi seperti diselimuti salju. Astaga, Sycil pasti marah banget ama gue.
“Yang bener?” Dengan nada pelan antara ingin berkata dan dan tidak Sycil coba meyakinkan dirinya.
“Iya bener, emang kenapa Cil? Elo marah ya ma gue?”
“Ng.., Nggak kok.”
“Trus elo kenapa jadi gitu Cil?” Kok elo jadi berubah gitu?”
“Gue tahu kalo selama ini elo baik banget ama gue. Tapi..”
Entah kenapa Sycil memotong perkataan gue. Dan semuanya menjadi jelas kenapa Sycil tiba-tiba berubah menjadi seperti itu. Semuanya menjadi jelas saat Sycil ngeberi tahu gue saat itu.
Cerita ini udah lima tahun gue simpan dan ngga’ ada siapapun yang tahu selain gue, Sycil, dan Angie. Oh iya, Angie itu anak pertama gue dan Sycil.
Dan apa yang Sycil bilang malam itu adalah :
“Ta.. tapi, yang elo pegang itu foto, fo… foto Gyala”.
~
Ada benarnya juga yang dibilang si Sycil kalo terkadang orang yang kita cintai adalah orang yang membawa kita ke dalam kehancuran dan teman yang berbagi penderitaan dan menangis bersama kita adalah cinta yang ngga’ disadari sebelumnya. Kenapa gue baru nyadar sekarang ya? Padahal dulu gue sempat ngeledek Sycil waktu dia bilang ke gue soal itu setengah tahun yang lalu.
Tapi hari ini mata hati gue benar-benar terbuka. Mencintai Ingka sungguh sebuah kemubaziran cinta. Memang seharusnya gue ngga’ boleh berbicara seperti itu tapi gue ngga’ tahu harus ngomong apa dan gimana lagi setelah dengan mata kepala gue sendiri gue ngelihat mereka, Ingka dan Aldo sahabat gue dari semester satu, berciuman di ruang tamu rumah Ingka di pagi ketika seharusnya kami berdua pergi ke studio foto.
Sungguh dua buah penghianatan yang menakjubkan, seorang Ingka yang gue cintai selama ini dan seorang Aldo yang udah gue anggap seperti saudara sendiri, benar-benar berhasil bahkan sangat sukses ngebuat gue jadi seperti orang terbodoh di dunia. Seperti seekor keledai yang mati kelaparan di tengah padang rumput, seperti seekor ikan yang mati tenggelam di dalam air. Baiklah, selamat untuk kalian berdua.
Tapi biarlah, gue yakin dengan keputusan Yang Maha Cinta kalo ada hikmah yang besar di balik yang terhancur sekalipun, Amin.
Dan siangnya, masih dengan kepunah ranahan dan kekecewaan terbesar gue untuk arti sebuah kepercayaan, Sycil datang ngejemput gue dengan tanpa ekspresi turut berduka sedikitpun. Padahal jelas-jelas kalo dia orang pertama yang gue telfon buat ngasih tahu pemandangan akbar itu. Tapi itulah Sycil. Dia selalu tersenyum dan berusaha ngebahagian gue dengan canda-candanya yang khas ala originalnya dia yang cuma satu-satunya. Meskipun gue tahu kalo sebenarnya dia selalu peduli dan bahkan terlalu peduli terhadap apa-apa yang menimpa diri gue.
Tapi siang itu Sycil bukan ngejemput gue buat minta temenin ke mall ataupun ngajakin lunch bareng seperti biasanya. Melainkan pergi ke pemakaman salah seorang teman smu nya dulu, Gyala. Sycil bilang sih Gyala itu dulu adalah salah satu sahabatmya, pada waktu kelas satu smu yang hanya sebulan dikenalnya karena Gyala di drop out dari sekolahan lantaran berantem dengan salah satu guru bahasa Inggris mereka, yang kemarin malam telah pergi terlebih dahulu pindah ke rumah baru di mana bintang malam tinggal, disebabkan RacunSS yang biasa terdapat pada racun serangga cair. Diduga Gyala stress berat sehingga memutuskan jalannya sendiri untuk lebih dulu pindah ke rumah baru nya, rumah akhirat.
Ngga’ begitu lama setelah Sycil ngomel-ngomelin gue buat buru-buru tukar baju akhirnya siang itu kami berdua pun pergi ke pemakaman umum, tempat di mana Gyala dimakamkan.
Di perjalanan itulah gue ngerasa kalo Sycil seperti cinta yang ngga’ pernah gue sadari sebelumnya. Seperti yang dia bilang ke gue setengah tahun yang lalu. Memang gue dan Sycil udah lama kenal, kami bersahabat semenjak masih smp dan sampai sekarang. Yang pasti selama perjalanan gue ngerasa ada yang lain dengan perasaan gue terhadap Sycil, ngga’ seperti selama ini. Seperti perasaan gue waktu bersama-sama Ingka dulu.
Mungkin itulah yang dimaksud Sycil dengan “terkadang orang yang kita cintai adalah orang yang membawa kita ke dalam kehancuran dan teman yang berbagi penderitaan dan menangis bersama kita adalah cinta yang ngga’ disadari sebelumnya.”
Tapi apa mungkin kalo gue jatuh cinta ama sahabat gue sendiri? Kalo gue jatuh cinta ke Sycil? Entahlah.
Setelah sekitar seperampat jam perjalanan dengan menggunakan mobil Sycil akhirnya gue dan Sycil pun sampai juga. Seperti suasana pemakaman pada umumnya dimana orang-orang mengenakan semua yang serba hitam, gue ngelihat seseorang yang mungkin dari tadi merhatiin gue semenjak gue turun dari mobil.
Tadinya sih gue cuek aja dan berdiri manis diantara para pelayat lainnya yang juga menghadiri pemakamannya Gyala. Karena Sycil waktu itu terlihat sibuk membagi-bagikan air mata dan pelukannya kepada keluarga Gyala dan beberapa sahabatnya. Tapi setelah gue ngerasa ngga’ nyaman, yang dari tadi dilihatin orang yang duduk di dalam mobil sedan hitam itu, akhirnya gue nekad juga buat ngedeketin orang itu.
Dengan berjalan kaki dari tempat gue berdiri ke arah mobil sedan hitam itu, ke arah orang yang menatap gue sedari tadi itu, paling-paling hanya lima belas detik. Setelah itu, gue mengulurkan tangan ke dia sebagai maksud baik untuk berkenalan. Dengan nada pelan, gue perkenalkan nama gue ke dia. “Frischa”, ya begitu orang itu menyebut namanya sambil menyambut uluran tangan gue.
Gila…. Setidaknya kata-kata itulah yang gue teriak-teriakan di hati gue. Gimana gue ngga’ teriak kalo ternyata orang yang menatap gue itu adalah cewek yang begitu cantik dengan suara terlembut yang pernah gue denger. Iya Frischa memang benar-benar cantik. Dan ngebuat gue hampir jadi salah tingkah.
Kesempatan yang begitu langka itu jelas ngga’ gue sia-siain begitu aja. Hitung-hitung buat sedikit ngelupain apa yang udah dilakukan Ingka dan Aldo ke gue. Dengan speak-speak gue yang sedikit terlatih, gue pun menyerang dia dengan beberapa pertanyaan yang terkesan sedikit menginterogasi sehingga ngebuat kami berdua bertukaran nomor hand phone.
Ngga’ lama setelah itu Sycil pul mendekati gue dan Frischa menaikkan kaca mobilnya. Yang artinya waktu perkenalan gue siang itu dengan Frischa telah selesai. Sycil pun menggenggam tangan gue dan membawa gue serta menuruti langkahnya masuk ke dalam mobil untuk kembali nganterin gue pulang.
Dalam perjalan pulang, dengan perasaan yang bertambah aneh terhadap Sycil, gue pun mengingat-ingat perkenalan tadi. Dan gue piker biarlah Sycil ngga’ perlu tahu.
Dan ketika matahari dengan garangnya menyinari seluruh angkasa, di hari setelah satu minggu terlewati semenjak hari di mana gue mengubur dalam-dalam cinta gue ke Ingka bersama dengan pemakaman Gyala siang itu, akhirnya gue pun telah melupakan semua perasaan yang pernah tercipta oleh Ingka, Ingka dan Aldo.
Bisa jadi mungkin karena waktu-waktu yang diberikan Frischa. Satu minggu semenjak perkenalan di pemakaman itu kami habiskan dengan sms dan telfon-telfonan. Bagi gue sekarang, sedikit banyak Frischa udah ngebantu menyatukan kepingan-kepingan hati gue yang sempat berserak-serakan, yang membuyar oleh seribu kekecewaan.
Dan tibalah waktu yang ngebuat gue sedikit bingung. Bingung gimana harus menjelaskan ke Sycil kalo gue sekarang lagi dekat dengan seorang cewek dan ada janji makan malam nanti malam. Entahlah, rasanya gue seperti menghianati Sycil jika gue ngga’ memberi tahu perkara gue dan Frischa. Baiklah, gue berjanji dalam hati gue sendiri kalo gue akan membeberkan semua ini nantinya setelah makan malam gue dan Frischa. Lebih baik terlambat daripada ngga’ ama sekali.
Walaupun sedikit seperti dikejar-kejar rasa bersalah akhirnya gue putusin untuk pergi makan malam yang udah gue janjiin dengan Frischa.
Di dalam angkot, beberapa menit menjelang gue sampai ke te tampat makan malam yang gue dan Frischa sepakati, gue berubah pikiran. Ngga’ bisa, gue ngga’ boleh sampe ngga’ cerita ke Sycil. Karena gimanapun dialah yang selama ini ada dan selalu ada di saat gue terpuruk, jatuh dan menghampa di dalam kepingan-kepingan hati yang membuyar. Lantas bagaimana mungkin gue bisa-bisanya ngga’ nyeritain semua ini ke Sycil? Ngga’ nyeritain hubungan yang ada di antara gue dan Frischa.
Entahlah, setelah memutuskan itu semua, gue ngerasa lega. Lega banget. Bahkan ngga’ cukup pas kalo hanya kata lega yang gue nyatain.
Gue pun turun di tengah jalan dan segera naik angkot yang berbalik arah menuju rumah Sycil. Lagian gue pikir masih ada lima belas menit lagi sebelum jam setengah delapan malam. Sebelum waktu yang kami, gue dan Frischa, sepakati untuk makan malam.
Di depan rumah Sycil gue pun menarik nafas dalam-dalam. Berharap Sycil ngga’ marah dengan semua yang gue certain nantinya. Kalo sebenarnya gue mungkin sebentar lagi akan dapat pengganti Ingka.
“Baiklah Sycil, begini…”. Dengan kalimat itulah gue memulai cerita gue di depan pintu setelah sebelumnya Sycil membukakan pintu rumahnya yang gue gedor-gedor dua menit sebelumnya. Tapi seperti Sycil yang memang Sycil, dia langsung menutup telinga dengan tangannya pertanda dia ngga’ mau mendengarkan penjelasan apa-apa dari gue.
Gue tahu itu bukanlah sikap yang menunjukan kalo dia sedang marah melainkan emang Sycil ngga’ pernah mau menerima siapapun dan bercerita dengan siapapun sebelum duduk di ruang tamunya. Dan untuk gue yang udah sangat dekat, ngga’ apa-apa kalo di kamar tidurnya. Meskipun gue jarang banget untuk mau masuk ruang pribadinya itu.
Tapi kali ini ngga’. Gue ngerasa lebih baik gue menceritakan di kamar tidurnya buat jaga-jaga siapa tahu Sycil bakalan marah-marah atau apalah yang menunjukkan kekesalannya ke gue.
Tanpa ragu-ragupun gue manaiki anak tangga menuju kamarnya. Dan dengan keheranan di wajah Sycil, diapun mengikuti tepat dibelakang langkah gue disertai kerutan-kerutan segar di keningnya.
Kamar Sycil yang ngga’ dikunci memudahkan langkah gue buat segera menerobos masuk dan duduk di atas tempat tidurnya. Sycil yang dari tadi masih membisu akhirnya ikut duduk di kursi meja belajarnya, tepat di depan gue. Hanya satu detik sebelum gue melancarkan niat gue buat ngasih tahu ke Sycil gerangan apa yang membawa gue malam-malam menerobos ke kamar tidurnya, mulut gue tiba-tiba terkunci rapat saat gue ngelihat foto-foto yang berserakan di tempat tidur Sycil. Biji mata gue seakan ingin keluar dengan sesegera mungkin untuk memasati dengan jelas, benarkah di antara foto yang berserakan itu salah satunya adalah foto Frischa?
Mata Sycil yang begitu tajam seperti elang kelaparan itu masih mengawasi gerak-gerik gue yang mungkin ngga’ dia mengerti sama sekali. Apalagi disaat gue mengambil beberapa foto yang salah satunya adalah foto Frischa itu. Iya benar ini adalah Frischa, hati gue menjerit seketika saat gue melihat dalam-dalam ke foto Frischa. Walaupun baru ketemuan sekali pada saat pemakaman Gyala itu tapi gue yakin kalo wajah, alis, mata, hidung, bibir dan senyuman ini adalah seratus sembilan belas persen milik Frischa.
Kebingungan yang seketika membanjiri ruang-ruang hati gue yang tanpa gue sadari ngebuat gue terdiam seperti dihentikan oleh waktu. Gimana mungkin foto Frischa ada pada Sycil? Apakah mereka berteman? Lantas kenapa selama ini gue ngga’ tahu kalo Sycil punya temen seorang Frischa? Lalu gimana dengan makan malam gue? apakah gue harus menceritakan ke Sycil sekarang juga mengenai Frischa? Jangan-jangan kalo gue ceritain sekarang, Sycil bisa marah-marah kalo dia tahu gue mau makan malam dekat dengan salah satu sahabatnya, Frischa, tapi dia ngga’ dikasih tahu sama sekali sebelumnya, sedikitpun.
Pertanyaan-pertanyaan ini harus terjawab. Tapi nantilah, setelah gue makan malam dengan Frischa.
Dalam keadaan sembilan puluh sembilan persen akhirnya gue bilang ke Sycil mengenai acara makan malam gue yang tinggal dua menit lagi itu.
“Sycil, gue mau bilang ke elo kalo gue dua menit lagi ada janji makan malam dengan seorang cewek. Gue harap elo ngga’ marah karena gue ngga’ ceriata apa-apa sebelumnya ke elo”.
“Terus kenapa elo masih disini? Iya, gue ngga’ apa-apa kok. Gue bisa ngertiin elo. Asalkan elo bahagia, gue juga bahagia”.
“Ma kasih ya Cil, elo emang sahabat gue yang paling baik sedunia. Kalo gitu gue pergi dulu ya, ntar gue janji, sepulang dari makan malam gue telfon lo dari rumah. Tapi lo jangan tidur dulu, tungguin gue ya Cil”.
“Oke oke, gue janji me elo gue akan nungguin kabar dari elo. By the way, kalo elo mau elo bisa pake’ mobil gue kok”.
Gue peluk Sycil erat-erat pertanda perasaan gue sedikit lega yang disertai kecupan Sycil di pipi gue.
Di tempat makan malam, dari kejauhan gue bisa ngelihat kalo Frischa udah nungguin gue. Semoga Frischa mau ngerti ntar, kalo naek angkot kadang-kadang ngebuat cewek harus bijaksana untuk menunggu lebih dulu di meja makan daripada cowok pada beberapa kasus janjian seperti gue ini.
Kefeminiman seorang Frischa pada acara makan malam itu ngebuat waktu terasa begitu anggun dan bersahabat dengan gue. Canda tawanya ngebuat gue jadi lupa apa itu arti dikhianati.
Disela-sela makan malam, kami bercerita banyak hal. Dan yang paling gue ingat ketika Frischa bilang kalo gue harus membiarkan hati gue mengalir mengikuti anak sungai perasaan gue yang terdalam di mana hati gue bisa menemukan kebahagiaan sejati seperti cahaya abadi yang bersinar tiada hentinya.
Meskipun begitu, sesekali gue teringat Sycil. Ya wajar saja, mungkin karena gue udah janji ke Sycil kalo gue mau ceritain semuanya tentang Frischa begitu acara makan malam ini selesai.
Tepat jam sembilan malam kami berduapun, gue dan Frischa, pulang ke rumah masing-masing. Frischa malam itu pulang dengan menggunakan taksi dan gue seperti ketika pergi tadi, menggunakan angkot.
Tetapi di dalam perjalanan pulang Sycil sms gue dan bilang kalo gue sebaiknya menceritakan semuanya seperti janji gue tadi di rumahnya aja. Ternyata Sycil benar-benar penasaran.
Di rumah Sycil, dia udah menunggu di muka pintu rumah dan berlari-lari kecil menyeret tangan gue untuk segera menceritakan semuanya di kamar tidurnya begitu gue menginjakan kaki di teras rumahnya.
Akhirnya, waktu yang telah gue janjiin ke Sycil pun tiba.
“Baiklah Sycil gue yang manis, gue akan ceritain ke elo semuanya dari awal”.
Begitulah gue mulai menceritakan ke Sycil gimana-gimananya gue bisa berkenalan dengan Frischa sampe akhirnya janjian makam malam tadi. Sedikit cemas gue pun mengambil salah satu foto yang masih berserakan di tempat tidur Sycil tadi. Foto itu adalah foto Frischa. Sebelumnya gue sempat nanyain ke Sycil kenapa foto-foto itu berserakan di tempat tidurnya dan Sycil bilang dia Cuma ingin menata ulang foto-foto tersebut di album foto sekalian melihat-lihat foto-foto teman-temannya yang udah jarang banget ketemu itu.
“Cil, maaf. Ini foto Frischa kan? Sebenarnya Frischa lah cewek yang gue ceritain itu. Elo ngga’ marah kan Cil?”
Sycil seketika terdiam. Badannya berkeringat dan wajahnya memucat pasi seperti diselimuti salju. Astaga, Sycil pasti marah banget ama gue.
“Yang bener?” Dengan nada pelan antara ingin berkata dan dan tidak Sycil coba meyakinkan dirinya.
“Iya bener, emang kenapa Cil? Elo marah ya ma gue?”
“Ng.., Nggak kok.”
“Trus elo kenapa jadi gitu Cil?” Kok elo jadi berubah gitu?”
“Gue tahu kalo selama ini elo baik banget ama gue. Tapi..”
Entah kenapa Sycil memotong perkataan gue. Dan semuanya menjadi jelas kenapa Sycil tiba-tiba berubah menjadi seperti itu. Semuanya menjadi jelas saat Sycil ngeberi tahu gue saat itu.
Cerita ini udah lima tahun gue simpan dan ngga’ ada siapapun yang tahu selain gue, Sycil, dan Angie. Oh iya, Angie itu anak pertama gue dan Sycil.
Dan apa yang Sycil bilang malam itu adalah :
“Ta.. tapi, yang elo pegang itu foto, fo… foto Gyala”.
~

