Monday, 1 September 2008

Oups...

S t o r y b y A n g k a s a P u t r a , S E

Ada benarnya juga yang dibilang si Sycil kalo terkadang orang yang kita cintai adalah orang yang membawa kita ke dalam kehancuran dan teman yang berbagi penderitaan dan menangis bersama kita adalah cinta yang ngga’ disadari sebelumnya. Kenapa gue baru nyadar sekarang ya? Padahal dulu gue sempat ngeledek Sycil waktu dia bilang ke gue soal itu setengah tahun yang lalu.


Tapi hari ini mata hati gue benar-benar terbuka. Mencintai Ingka sungguh sebuah kemubaziran cinta. Memang seharusnya gue ngga’ boleh berbicara seperti itu tapi gue ngga’ tahu harus ngomong apa dan gimana lagi setelah dengan mata kepala gue sendiri gue ngelihat mereka, Ingka dan Aldo sahabat gue dari semester satu, berciuman di ruang tamu rumah Ingka di pagi ketika seharusnya kami berdua pergi ke studio foto.

Sungguh dua buah penghianatan yang menakjubkan, seorang Ingka yang gue cintai selama ini dan seorang Aldo yang udah gue anggap seperti saudara sendiri, benar-benar berhasil bahkan sangat sukses ngebuat gue jadi seperti orang terbodoh di dunia. Seperti seekor keledai yang mati kelaparan di tengah padang rumput, seperti seekor ikan yang mati tenggelam di dalam air. Baiklah, selamat untuk kalian berdua.

Tapi biarlah, gue yakin dengan keputusan Yang Maha Cinta kalo ada hikmah yang besar di balik yang terhancur sekalipun, Amin.

Dan siangnya, masih dengan kepunah ranahan dan kekecewaan terbesar gue untuk arti sebuah kepercayaan, Sycil datang ngejemput gue dengan tanpa ekspresi turut berduka sedikitpun. Padahal jelas-jelas kalo dia orang pertama yang gue telfon buat ngasih tahu pemandangan akbar itu. Tapi itulah Sycil. Dia selalu tersenyum dan berusaha ngebahagian gue dengan canda-candanya yang khas ala originalnya dia yang cuma satu-satunya. Meskipun gue tahu kalo sebenarnya dia selalu peduli dan bahkan terlalu peduli terhadap apa-apa yang menimpa diri gue.

Tapi siang itu Sycil bukan ngejemput gue buat minta temenin ke mall ataupun ngajakin lunch bareng seperti biasanya. Melainkan pergi ke pemakaman salah seorang teman smu nya dulu, Gyala. Sycil bilang sih Gyala itu dulu adalah salah satu sahabatmya, pada waktu kelas satu smu yang hanya sebulan dikenalnya karena Gyala di drop out dari sekolahan lantaran berantem dengan salah satu guru bahasa Inggris mereka, yang kemarin malam telah pergi terlebih dahulu pindah ke rumah baru di mana bintang malam tinggal, disebabkan RacunSS yang biasa terdapat pada racun serangga cair. Diduga Gyala stress berat sehingga memutuskan jalannya sendiri untuk lebih dulu pindah ke rumah baru nya, rumah akhirat.

Ngga’ begitu lama setelah Sycil ngomel-ngomelin gue buat buru-buru tukar baju akhirnya siang itu kami berdua pun pergi ke pemakaman umum, tempat di mana Gyala dimakamkan.

Di perjalanan itulah gue ngerasa kalo Sycil seperti cinta yang ngga’ pernah gue sadari sebelumnya. Seperti yang dia bilang ke gue setengah tahun yang lalu. Memang gue dan Sycil udah lama kenal, kami bersahabat semenjak masih smp dan sampai sekarang. Yang pasti selama perjalanan gue ngerasa ada yang lain dengan perasaan gue terhadap Sycil, ngga’ seperti selama ini. Seperti perasaan gue waktu bersama-sama Ingka dulu.

Mungkin itulah yang dimaksud Sycil dengan “terkadang orang yang kita cintai adalah orang yang membawa kita ke dalam kehancuran dan teman yang berbagi penderitaan dan menangis bersama kita adalah cinta yang ngga’ disadari sebelumnya.”

Tapi apa mungkin kalo gue jatuh cinta ama sahabat gue sendiri? Kalo gue jatuh cinta ke Sycil? Entahlah.

Setelah sekitar seperampat jam perjalanan dengan menggunakan mobil Sycil akhirnya gue dan Sycil pun sampai juga. Seperti suasana pemakaman pada umumnya dimana orang-orang mengenakan semua yang serba hitam, gue ngelihat seseorang yang mungkin dari tadi merhatiin gue semenjak gue turun dari mobil.

Tadinya sih gue cuek aja dan berdiri manis diantara para pelayat lainnya yang juga menghadiri pemakamannya Gyala. Karena Sycil waktu itu terlihat sibuk membagi-bagikan air mata dan pelukannya kepada keluarga Gyala dan beberapa sahabatnya. Tapi setelah gue ngerasa ngga’ nyaman, yang dari tadi dilihatin orang yang duduk di dalam mobil sedan hitam itu, akhirnya gue nekad juga buat ngedeketin orang itu.

Dengan berjalan kaki dari tempat gue berdiri ke arah mobil sedan hitam itu, ke arah orang yang menatap gue sedari tadi itu, paling-paling hanya lima belas detik. Setelah itu, gue mengulurkan tangan ke dia sebagai maksud baik untuk berkenalan. Dengan nada pelan, gue perkenalkan nama gue ke dia. “Frischa”, ya begitu orang itu menyebut namanya sambil menyambut uluran tangan gue.

Gila…. Setidaknya kata-kata itulah yang gue teriak-teriakan di hati gue. Gimana gue ngga’ teriak kalo ternyata orang yang menatap gue itu adalah cewek yang begitu cantik dengan suara terlembut yang pernah gue denger. Iya Frischa memang benar-benar cantik. Dan ngebuat gue hampir jadi salah tingkah.

Kesempatan yang begitu langka itu jelas ngga’ gue sia-siain begitu aja. Hitung-hitung buat sedikit ngelupain apa yang udah dilakukan Ingka dan Aldo ke gue. Dengan speak-speak gue yang sedikit terlatih, gue pun menyerang dia dengan beberapa pertanyaan yang terkesan sedikit menginterogasi sehingga ngebuat kami berdua bertukaran nomor hand phone.

Ngga’ lama setelah itu Sycil pul mendekati gue dan Frischa menaikkan kaca mobilnya. Yang artinya waktu perkenalan gue siang itu dengan Frischa telah selesai. Sycil pun menggenggam tangan gue dan membawa gue serta menuruti langkahnya masuk ke dalam mobil untuk kembali nganterin gue pulang.

Dalam perjalan pulang, dengan perasaan yang bertambah aneh terhadap Sycil, gue pun mengingat-ingat perkenalan tadi. Dan gue piker biarlah Sycil ngga’ perlu tahu.

Dan ketika matahari dengan garangnya menyinari seluruh angkasa, di hari setelah satu minggu terlewati semenjak hari di mana gue mengubur dalam-dalam cinta gue ke Ingka bersama dengan pemakaman Gyala siang itu, akhirnya gue pun telah melupakan semua perasaan yang pernah tercipta oleh Ingka, Ingka dan Aldo.

Bisa jadi mungkin karena waktu-waktu yang diberikan Frischa. Satu minggu semenjak perkenalan di pemakaman itu kami habiskan dengan sms dan telfon-telfonan. Bagi gue sekarang, sedikit banyak Frischa udah ngebantu menyatukan kepingan-kepingan hati gue yang sempat berserak-serakan, yang membuyar oleh seribu kekecewaan.

Dan tibalah waktu yang ngebuat gue sedikit bingung. Bingung gimana harus menjelaskan ke Sycil kalo gue sekarang lagi dekat dengan seorang cewek dan ada janji makan malam nanti malam. Entahlah, rasanya gue seperti menghianati Sycil jika gue ngga’ memberi tahu perkara gue dan Frischa. Baiklah, gue berjanji dalam hati gue sendiri kalo gue akan membeberkan semua ini nantinya setelah makan malam gue dan Frischa. Lebih baik terlambat daripada ngga’ ama sekali.

Walaupun sedikit seperti dikejar-kejar rasa bersalah akhirnya gue putusin untuk pergi makan malam yang udah gue janjiin dengan Frischa.

Di dalam angkot, beberapa menit menjelang gue sampai ke te tampat makan malam yang gue dan Frischa sepakati, gue berubah pikiran. Ngga’ bisa, gue ngga’ boleh sampe ngga’ cerita ke Sycil. Karena gimanapun dialah yang selama ini ada dan selalu ada di saat gue terpuruk, jatuh dan menghampa di dalam kepingan-kepingan hati yang membuyar. Lantas bagaimana mungkin gue bisa-bisanya ngga’ nyeritain semua ini ke Sycil? Ngga’ nyeritain hubungan yang ada di antara gue dan Frischa.

Entahlah, setelah memutuskan itu semua, gue ngerasa lega. Lega banget. Bahkan ngga’ cukup pas kalo hanya kata lega yang gue nyatain.

Gue pun turun di tengah jalan dan segera naik angkot yang berbalik arah menuju rumah Sycil. Lagian gue pikir masih ada lima belas menit lagi sebelum jam setengah delapan malam. Sebelum waktu yang kami, gue dan Frischa, sepakati untuk makan malam.

Di depan rumah Sycil gue pun menarik nafas dalam-dalam. Berharap Sycil ngga’ marah dengan semua yang gue certain nantinya. Kalo sebenarnya gue mungkin sebentar lagi akan dapat pengganti Ingka.

“Baiklah Sycil, begini…”. Dengan kalimat itulah gue memulai cerita gue di depan pintu setelah sebelumnya Sycil membukakan pintu rumahnya yang gue gedor-gedor dua menit sebelumnya. Tapi seperti Sycil yang memang Sycil, dia langsung menutup telinga dengan tangannya pertanda dia ngga’ mau mendengarkan penjelasan apa-apa dari gue.
Gue tahu itu bukanlah sikap yang menunjukan kalo dia sedang marah melainkan emang Sycil ngga’ pernah mau menerima siapapun dan bercerita dengan siapapun sebelum duduk di ruang tamunya. Dan untuk gue yang udah sangat dekat, ngga’ apa-apa kalo di kamar tidurnya. Meskipun gue jarang banget untuk mau masuk ruang pribadinya itu.

Tapi kali ini ngga’. Gue ngerasa lebih baik gue menceritakan di kamar tidurnya buat jaga-jaga siapa tahu Sycil bakalan marah-marah atau apalah yang menunjukkan kekesalannya ke gue.

Tanpa ragu-ragupun gue manaiki anak tangga menuju kamarnya. Dan dengan keheranan di wajah Sycil, diapun mengikuti tepat dibelakang langkah gue disertai kerutan-kerutan segar di keningnya.

Kamar Sycil yang ngga’ dikunci memudahkan langkah gue buat segera menerobos masuk dan duduk di atas tempat tidurnya. Sycil yang dari tadi masih membisu akhirnya ikut duduk di kursi meja belajarnya, tepat di depan gue. Hanya satu detik sebelum gue melancarkan niat gue buat ngasih tahu ke Sycil gerangan apa yang membawa gue malam-malam menerobos ke kamar tidurnya, mulut gue tiba-tiba terkunci rapat saat gue ngelihat foto-foto yang berserakan di tempat tidur Sycil. Biji mata gue seakan ingin keluar dengan sesegera mungkin untuk memasati dengan jelas, benarkah di antara foto yang berserakan itu salah satunya adalah foto Frischa?

Mata Sycil yang begitu tajam seperti elang kelaparan itu masih mengawasi gerak-gerik gue yang mungkin ngga’ dia mengerti sama sekali. Apalagi disaat gue mengambil beberapa foto yang salah satunya adalah foto Frischa itu. Iya benar ini adalah Frischa, hati gue menjerit seketika saat gue melihat dalam-dalam ke foto Frischa. Walaupun baru ketemuan sekali pada saat pemakaman Gyala itu tapi gue yakin kalo wajah, alis, mata, hidung, bibir dan senyuman ini adalah seratus sembilan belas persen milik Frischa.

Kebingungan yang seketika membanjiri ruang-ruang hati gue yang tanpa gue sadari ngebuat gue terdiam seperti dihentikan oleh waktu. Gimana mungkin foto Frischa ada pada Sycil? Apakah mereka berteman? Lantas kenapa selama ini gue ngga’ tahu kalo Sycil punya temen seorang Frischa? Lalu gimana dengan makan malam gue? apakah gue harus menceritakan ke Sycil sekarang juga mengenai Frischa? Jangan-jangan kalo gue ceritain sekarang, Sycil bisa marah-marah kalo dia tahu gue mau makan malam dekat dengan salah satu sahabatnya, Frischa, tapi dia ngga’ dikasih tahu sama sekali sebelumnya, sedikitpun.

Pertanyaan-pertanyaan ini harus terjawab. Tapi nantilah, setelah gue makan malam dengan Frischa.

Dalam keadaan sembilan puluh sembilan persen akhirnya gue bilang ke Sycil mengenai acara makan malam gue yang tinggal dua menit lagi itu.

“Sycil, gue mau bilang ke elo kalo gue dua menit lagi ada janji makan malam dengan seorang cewek. Gue harap elo ngga’ marah karena gue ngga’ ceriata apa-apa sebelumnya ke elo”.

“Terus kenapa elo masih disini? Iya, gue ngga’ apa-apa kok. Gue bisa ngertiin elo. Asalkan elo bahagia, gue juga bahagia”.
“Ma kasih ya Cil, elo emang sahabat gue yang paling baik sedunia. Kalo gitu gue pergi dulu ya, ntar gue janji, sepulang dari makan malam gue telfon lo dari rumah. Tapi lo jangan tidur dulu, tungguin gue ya Cil”.

“Oke oke, gue janji me elo gue akan nungguin kabar dari elo. By the way, kalo elo mau elo bisa pake’ mobil gue kok”.
Gue peluk Sycil erat-erat pertanda perasaan gue sedikit lega yang disertai kecupan Sycil di pipi gue.

Di tempat makan malam, dari kejauhan gue bisa ngelihat kalo Frischa udah nungguin gue. Semoga Frischa mau ngerti ntar, kalo naek angkot kadang-kadang ngebuat cewek harus bijaksana untuk menunggu lebih dulu di meja makan daripada cowok pada beberapa kasus janjian seperti gue ini.

Kefeminiman seorang Frischa pada acara makan malam itu ngebuat waktu terasa begitu anggun dan bersahabat dengan gue. Canda tawanya ngebuat gue jadi lupa apa itu arti dikhianati.

Disela-sela makan malam, kami bercerita banyak hal. Dan yang paling gue ingat ketika Frischa bilang kalo gue harus membiarkan hati gue mengalir mengikuti anak sungai perasaan gue yang terdalam di mana hati gue bisa menemukan kebahagiaan sejati seperti cahaya abadi yang bersinar tiada hentinya.

Meskipun begitu, sesekali gue teringat Sycil. Ya wajar saja, mungkin karena gue udah janji ke Sycil kalo gue mau ceritain semuanya tentang Frischa begitu acara makan malam ini selesai.

Tepat jam sembilan malam kami berduapun, gue dan Frischa, pulang ke rumah masing-masing. Frischa malam itu pulang dengan menggunakan taksi dan gue seperti ketika pergi tadi, menggunakan angkot.

Tetapi di dalam perjalanan pulang Sycil sms gue dan bilang kalo gue sebaiknya menceritakan semuanya seperti janji gue tadi di rumahnya aja. Ternyata Sycil benar-benar penasaran.

Di rumah Sycil, dia udah menunggu di muka pintu rumah dan berlari-lari kecil menyeret tangan gue untuk segera menceritakan semuanya di kamar tidurnya begitu gue menginjakan kaki di teras rumahnya.

Akhirnya, waktu yang telah gue janjiin ke Sycil pun tiba.

“Baiklah Sycil gue yang manis, gue akan ceritain ke elo semuanya dari awal”.

Begitulah gue mulai menceritakan ke Sycil gimana-gimananya gue bisa berkenalan dengan Frischa sampe akhirnya janjian makam malam tadi. Sedikit cemas gue pun mengambil salah satu foto yang masih berserakan di tempat tidur Sycil tadi. Foto itu adalah foto Frischa. Sebelumnya gue sempat nanyain ke Sycil kenapa foto-foto itu berserakan di tempat tidurnya dan Sycil bilang dia Cuma ingin menata ulang foto-foto tersebut di album foto sekalian melihat-lihat foto-foto teman-temannya yang udah jarang banget ketemu itu.

“Cil, maaf. Ini foto Frischa kan? Sebenarnya Frischa lah cewek yang gue ceritain itu. Elo ngga’ marah kan Cil?”

Sycil seketika terdiam. Badannya berkeringat dan wajahnya memucat pasi seperti diselimuti salju. Astaga, Sycil pasti marah banget ama gue.

“Yang bener?” Dengan nada pelan antara ingin berkata dan dan tidak Sycil coba meyakinkan dirinya.

“Iya bener, emang kenapa Cil? Elo marah ya ma gue?”

“Ng.., Nggak kok.”

“Trus elo kenapa jadi gitu Cil?” Kok elo jadi berubah gitu?”

“Gue tahu kalo selama ini elo baik banget ama gue. Tapi..”

Entah kenapa Sycil memotong perkataan gue. Dan semuanya menjadi jelas kenapa Sycil tiba-tiba berubah menjadi seperti itu. Semuanya menjadi jelas saat Sycil ngeberi tahu gue saat itu.

Cerita ini udah lima tahun gue simpan dan ngga’ ada siapapun yang tahu selain gue, Sycil, dan Angie. Oh iya, Angie itu anak pertama gue dan Sycil.

Dan apa yang Sycil bilang malam itu adalah :

“Ta.. tapi, yang elo pegang itu foto, fo… foto Gyala”.

~

Sunday, 31 August 2008

Kembalilah dengan Rasa Syukur

di mana jiwa dulu yang lama terpendam
kudapati ia masih tenggelam dalam buaian masa silam
bebas berbuat, melihat semua dan menggapai mimpi
dalam sebuah pelukan waktu saja
terangkul luka lama, terjaga rindu sisi lalu
mungkin terlelap, menyerah kepadanya
semestinya kau bangun, meski hembusannya bisa
membuyarkan anganmu bagai
ombak pantai yang mengobrak-abrik pasir putihnya
lihatlah dirimu sehingga kau mendapati dirimu
benar-benar telanjang, agar tiba saatnya nanti
kau dapat menghimpun dengan kata hatimu
biarkanlah godaan menjadi bagian pertumbuhanmu
sehingga kata rela bisa kau tancapkan dihatimu
bukan malah menebas dirimu, menjadikanmu abu
rahasia hatimu adalah milikmu, yang tak membantu apapun
dan tak merugikan apapun yang menjadi bagianmu
ada sesuatu yang tak bisa kau tentukan jalannya
melainkan pabila ia menilaimu pantas, ia mengarahkanmu
yakini darah yang kau teteskan adalah saat-saat di mana
waktu kegembiraan membanjiri ruang mu
biarlah sang waktu yang menyalakan api
yang membakar hatimu
di mana saat itu,
tak akan pernah kau temukan keraguan lagi.

by Angkasa Putra, SE

Ketika Cinta Ingin Diucap

S t o r y b y A n g k a s a P u t r a , S E

Kalo dipikir-pikir gue ini kurang apa sebagai cowok. Badan atletis, tampang cool, mobil kren, rumah gede, depositopun juga ada di setiap bank di kota ini. Lagian siapa yang ngga’ kenal gue di kota ini? Seorang excecutive muda tetapi udah memimpin dan punya dua belas perusahaan walaupun dapat dari warisan bokap. Mulai daru perusahaan air mineral sampe perusahaan pakaian khusus wanita. Trus kenapa sampe sekarang gue belum punya cewek juga? Kenapa ngga’ ada satupun cewek yang mau jadi istri gue? Jangankan istri, pacar aja ngga’ ada sampe sekarang.

Kalo dibilang gue gay, rasanya ngga’ mungkin. Kenapa ngga’ mungkin? Karena koleksi vcd dan dvd bf gue banyak, lagian gue yakin kalo gue jadi ereksi setiap ngelihat bintang-bintang cewek di film-film bf yang gue koleksi itu beraksi. Lantas, kenapa sampe sekarang gue masih jomblo juga? Apa karena warisan cap play boy yang diwarisin kakak gue yang udah beberapa tahun ini menetap diluar negeri? Jadinya cewek-cewek pada ngerasa mikir buat dekat dengan gue lantaran takut dimainin? Tapi, masa iya? Lima tahun yang lalu sih ngga’ masalah dengan kesendirian gue yang tanpa cewek ini, tapi sekarang, bulan depan ini usia gue udah genap 23 tahun.

Belakangan ini seluruh karyawan mapun karyawati di salah satu perusahaan gue mulai ribut-ribut. Mereka berpikiran sepertinya perusahaan akan terkena masalah. Sebenarnya bukan masalah besar menurut gue. Ini hanya masalah yang akan didapat secara tak langsung dari dampak adanya rancangan undang-undang baru di negara gue yang tercinta ini, yang katanya akan mengatur mengenai pornografi dan pornoaksi.

Ya, bagaimana tidak. Perusahaan gue yang satu ini sudah sejak lama memproduksi baju bikini. Baju yang memperlihatkan aurat-aurat yang terlarang apalagi untuk diperlihatkan bagi konsumsi umum kalo seandainya rancangan undang-undang itu disahkan.

Yang mereka ributkan bukan mengenai batasan antara pornografi dan pornoaksi yang tidak jelas batasannya itu, yang mereka ributkan adalah bagaimana nasib mereka nanti seandainya rancangan itu menjadi undang-undang. Apakah mereka akan di PHK? Tapi itu ngga’ masalah bagi gue karena apa susahnya sih banting setir? Dan gue juga ngga’ akan tahu apa yang sedang diributkan oleh karyawan dan karyawati gue ini kalo ngga’ dibilangin ama sekretaris gue. Wajarlah, sebagai sekretaris dia ngerasa wajib melaporkan apa-apa yang terjadi ke gue mengenai perusahaan, ke pimpinannya.

Sekretaris gue yang satu itu sangat loyal, udah hampir lima tahun dia bekerja di perusahaan ini, tanpa sedikitpun mengeluh. Apalagi menuntut untuk kenaikan gaji. Dari yang gue lihat dia orangnya sangat low profile, apa adanya, dia benar-benar tipe cewek yang cocok untuk dijadikan istri. Ah, kalo begitu kenapa ngga’ gue tanyain aja ke dia, Ke Tika. Siapa tahu dia nerima gue buat jadi suaminya. Tidak, jangan sekarang. Karena kelihatannya banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Kalo begitu nanti sore gue panggil Tikanya ke ruangan gue. Sekalian gue mikirin sesuatu dulu buat nanti sore dan nanyain kakak gue gimana pendapatnya soal yang satu ini. Lagian sekarang ini sudah waktunya Lunch. Kalo lunch di Singapura keburu ngga’ ya waktunya? Bosen ah, gimana kalo sesekali gue lunch di kantin bawah di tempat di mana Tika biasanya makan. Hitung-hitung membaur bersama para karyawan-karyawan.

Sekarang udah pukul setengah empat sore, udah waktunya gue panggil Tika ke ruangan gue. Baru aja gue telfon, Tikanya udah datang ke hadapan gue dan seperti biasanya dia bertanya kalo-kalo ada yang bisa dia bantu. Tapi, kali ini beda dengan biasanya karena gue langsung mempersilahkan dia duduk di depan meja gue. Gue tahu kalo dia sekarang ini penuh rasa penasaran ada apa sebenarnya ini? Tanpa basa-basi lagi, gue mengutarakan niat gue ke dia. Dan dia pun menerimanya. Oh iya, dia juga bilang. Selama ini alasan dia bekerja di sini selain dia ngerasa cocok dengan pekerjaannya dia juga ingin merhatiin gue dengan cara-cara yang dia bisa dan tampak wajar sebagai seorang sekretaris. Hanya aja gue ngga’ terlalu menyadarinya sampe dia yang memberitahu.

Dua hari telah gue lewati dengan perasaan senang, hanya saja aneh, kenapa selama ini gue ngga’ nyadar ya kalo sebenarnya ada cewek yang memendam perasaan suka ke gue? Apalagi cewek itu sekretaris di salah satu perusahaan gue sendiri. Mungkin gue terlalu banyak ngurusin bisnis sampe-sampe gue terlalu lelah untuk ngurusin siapa yang akan jadi pendamping hidup gue.

Wow, yang jelas gue senang banget. Permintaan gue diterima Tika dengan senang hati. Rencananya dua minggu lagi kami berdua akan menikah, di Paris. Karena baik bonyoknya dia ataupun gue ngga’ ada masalah sama sekali. They’ve deal. Terutama bonyok gue, karena kedua-duanya udah kepengen banget menimang cucu. Ya, setelah sekian lama mereka merintis bisnis dari nol sampe jadi seperti sekarang ini, wajarlah kalo mereka di hari tuanya ingin bersantai menghabiskan waktu dengan cucu-cucu mereka kelak.

Hari ini, seperti yang direncanakan sebelumnya kami berdua, gue dan Tika, pun akhirnya menikah di Paris, di salah satu hotel ternama tentunya. Semua kebahagian rasanya kami miliki. Bahkan, orang-orang terdekat gue dan semua orang-orang yang hadir di sini ikut merasa bahagia. Termasuk Kevin, kakak gue. Hari ini rasanya adalah hari yang paling ngebahagiain bagi gue. Hidup gue serasa lengkaplah sudah. Dan akan bertambah semakin lengkap lagi kalo gue dan Tika bisa memberikan bonyok cucu. Ah, ngga’ bisa gue bayangin gimana jadinya jika saat itu tiba. Hari ini, gue ngerasa ngelihat senyuman yang paling indah dari bonyok gue yang ngga’ pernah gue lihat sebelumnya. Bahkan, senyuman hari ini ngga’ seindah ketika gue di wisuda saat menyelesaikan kuliah gue, tidak seindah ketika gue memenangkan tender-tender miliaran rupiah buat perusahaan.

Pagi ini, pagi-pagi sekali, gue udah bangun untuk mandi dan sarapan. Sarapan yang sangat gue nanti-nantiin. Sarapan yang dibuat oleh tangan Tika sendiri, yang selain cekatan dalam bekerja dia juga sangat pintar memasak. Meskipun cekatan dalam bekerja sudah hampir satu bulan lebih ini dia gue berhentiin sebagai sekretaris gue. Masa’ iya gue tega ngelihat istri gue banting tulang nyari duit? Kan ngga’ mungkin. Gue bangun pagi-pagi gini karena pagi ini gue dan Tika rencananya mau pergi ke praktek dokter yang ada di rumah sakit didekat rumah kami, untuk memeriksakan kondisi kesehatannya. Karena semalem Tika kelihatan sangat ngga’ enak badan, ngga’ seperti sebulan sebelumnya. Ngga’ satu haripun seperti sebulan sebelumnya. Dia terlalu banyak muntah. Di antara kekhawatiran yang melanda gue, gue juga sedikit berbahagia. Karena jangan-jangan Tika hamil, iya mungkin Tika Hamil. Karena itulah semalem kami sepakat untuk pergi ke dokter pagi ini. Siapa tahu sebentar lagi gue akan menjadi seorang ayah, ayah dari anak-anak gue sendiri. Wouw.

Di rumah sakit Tika pun diperiksa oleh dokter kenalan gue.

Ngga’ begitu lama setelah dokter memeriksa keadaan Tika, kami berdua pulang ke rumah dengan harap-harap cemas. Karena sampe detik ini belum ada kepastian mengenai apa yang sedang terjadi dengan Tika? Apakah dia benar-benar hamil atau sebenarnya dia mengidap penyakit yang selama ini ngga’ kami berdua ketahui sebelumnya.
Hanya beberapa jam setelah kami berdua pulang ke rumah hand phone gue berdering dan ternyata sebuah panggilan dari dokter yang memeriksa Tika tadi. Karena tadi dokter itu berjanji untuk mengabarin gue secepatnya seandainya hasil pemeriksaan mengenai kondisi keadaan Tika telah diketahui.

Apa yang dikatakan dokter itu ke gue cukup ngebuat gue berteriak sekencang-kencangnya, berteriak sehisterisnya, berteriak dan berteriak. Sampe-sampe rasanya gue jadi gemetaran dan ngga’ bisa berdiri. Soalnya dokter itu memberitahukan ke gue kalo ternyata… kalo ternyata Tika mengidap HIV sejak lama, sebuah virus yang mematikan dan sekarang telah positif menjadi AIDS.

Spontan gue dan Tika kembali ke rumah sakit untuk menanyakan kebenaran berita itu. Apakah memang seperti itu keadaan Tika sekarang?

Di dalam perjalanan gue masih kepikiran akan apa yang baru gue denger dari dokter itu. Gue masih berharap dokter itu salah, karena kalau iya artinya gue ngga’ lama lgi akan kehilangan Tika, kehilangan istri gue dan automaticcly gue pun jangan-jangan juga mengidap HIV. Oh shit, gimana dengan harapan gue selama ini untuk jadi ayah dari anak-anak gue? Gimana dengan impian gue untuk ngeberiin bonyok gue cucu? Haruskah semua ini terjadi ke gue? Tapi kenapa Tika selama ini ngga’ menceritakan semua ini ke gue, menceritakan mengenai penyakitnya? Bukankah seandainya dia memberitahu gue lebih awal gue bisa ngebantu dia? Oh Tika, kenapa elo tega ngebohongin gue selama ini? Kenapa Tika?

Di rumah sakit, setelah bertemu dokter itu ngga’ ada yang bisa gue dan Tika lakuin.

Dokter itu benar, Tika memang benar-benar mengidap AIDS. Gue bener-bener ngga’ nyangka kalo hal seperti ini akan terjadi ke gue, ke kami berdua. Gue masih ‘ngga abis pikir gimana ini bisa terjadi ke gue. Tanpa gue sadari, air mata gue mengalir di pipi gue. Air mata yang hampir ngga’ pernah mengalir selama sepuluh tahun belakangan ini, apalagi harus mengalir di depan orang-orang, di depan dokter dan Tika. Gue masih bingung harus ngapain.

Emosi gue membuat gue memeluk Tika erat-erat, sangat erat. Dengan air mata gue yang masih mengalir dan tetap memeluk Tika, gue berbisik di telinganya. Berbisik cukup dekat dan pelan walaupun gue merasa dokter yang masih berada di dekat kami itu bisa mendengar bisikan gue ke Tika. Dengan pelan gue berbisik, gue berkata, “Tika, aku ngga’ mau kehilangan kamu secepat ini. Aku cinta padamu, sangat mencintaimu”.

Tapi, yang terjadi selanjutnya adalah, Tika tersenyum bahkan ia tertawa. Begitupun dokter itu.

Mengapa dengan keadaan seperti ini mereka masih bisa tertawa? Dengan menatap gue yang masih memeluk Tika, dokter itu berkata “Ini semua permintaan Tika, Bang. Dia yang merencanakan ini semua sejak kemarin. Dia hanya ingin mendengar Abang mengatakan itu kepadanya. Mengatakan bahwa Abang mencintainya. Karena selama ini Abang ngga’ pernah mengatakan kalimat itu kepadanya, bahkan setelah sebulan Abang dan Tika menikah sekalipun. Mengenai penyakit itu, Tika ngga’ mengidap AIDS seperti yang Abang kira. Tika sekarang mengandung anak pertama Abang, selamat ya Bang”.

Iya ya, apa yang dibilang dokter itu benar kalo selama ini gue belum pernah sekalipun mengatakan cinta kepada Tika, bahkan mengatakan cinta itu sendiri. Terima kasih, Tuhan. Gue jadi ayah… .

Apa yang gue rasain sekarang benar-benar mukjizat dari Yang Maha Cinta. Sebuah kebahagiaan yang tiada tandingannya.

Kami berduapun, gue dan Tika, segera bergegas untuk pulang ke rumah, tetapi ke rumah bonyok gue. Karena gue udah ngga’ sabar pengen ngeberitahu kabar bahagia ini ke bonyok. Papi, mami, sebentar lagi kalian akan jadi kakek dan nenek. Begitulah isi kepala gue selama perjalanan menuju rumah.

Tika pun terlihat bahagia, sangat bahagia. Gue benar-benar beruntung bisa punya istri seperti dia. Terima kasih Tuhan.

Di perjalanan, Tika minta berhenti sebentar di depan mini market. Dia bilang ada yang ingin dibeli dan gue pun menuruti permintaannya.

Selama dia di mini market gue sempat berfikir, kira-kira kejutan apa lagi yang akan diberiinnya ke gue? Ngga’ berapa lama dari dalam mini market banyak orang-orang berlarian kesana kemari sambil berteriak-teriak. Gue sempat bingung ada apa sebenarnya. Belum sempat kebigungan gue terjawab gue melihat Tika keluar dari dalam mini market. Astaga, tubuhnya penuh darah. Dan dia jatuh tergeletak begitu aja tepat di depan pintu mini market itu. Seorang satpam mendekati gue dan berkata “Istri Bapak menjadi korban penembakan dari perampokan bersenjata yang baru saja terjadi”.

Tidaaak… .

~

Saturday, 30 August 2008

Sang Tiara!

Air mata jatuh dalam irama derasnya hujan
Telah bercampur menusuk angan-angan
Mengoyak, menghancurkan, mencabik-cabik, hancur tak karuan
Seperti tiba-tiba, dan memang tiba-tiba
Kemana pepohonan? Dimana keramaian?
Aku telanjang,
Hilang langkah, hilang kata, hilang dan begitu saja
Seperti darah kehilangan desah, apa itu gumpalan pucat?
Berkerut, dingin tergeletak pada sebuah jalan
Tapi lihat !! Bukan mahkota, tiaranya
Bukan anggun tiap langkahnya
Atau ramah tiap butiran senyumnya
Hanya langkah satu persatu itu
Hanya iring-iringan harapnya
Hanya untai-untaian do’anya
Ketika lirih-lirih sesalnya
Dan dekap harapan seorang pencinta
Merintih tertatih mencoba menggapai lagi
Tapi, telah hilang tautannya
Karena… sang tiara, tetaplah tegar !
Luka dan khianat ini akan selesai
Saat ucap takbir pertama untukku.

Kamilah Cinta

Gambar kami pada kilat yang dibawa gemuruh
Duduk kami pada kayu yang dibawa bumi
Bercerita kami yang didengar angin dirintik hujan
Berangan kami untuk sebuah rumah dipenuhi sakinah
Seperti sebuah replika kisah yang tak lekang Romeo dan Juliet,

Terbang kami pada pucuk-pucuk tertinggi duniawi
Melintasi yang dituliskan hingga jadilah kerinduan
Dengan seluruh cucuran cinta sepuluh bulan kami
Dan lupalah kami pada mendiang khianat hati
Kamilah cinta jelmaan Adam dan Hawa.

Shadow of Her [by me!]

little bit of my complaints
and i feel so scared
it’s so hard to convince me about what kind of this feelin’?
always fall to the stumped street,
but i believe this is real
just one thing that somebody should know, soon
i woke up with a nice dream that i haven’t before
one month ago …it’s happen and itsn’t real
it’s look i see the heaven in her ocean eyes
this sound isn’t too good for me
although i often hear the reverberation in my mind
then i don’t see the time again
suddenly she have live inside of me
foresight of all, everything
and everything become different
there is no sense i can show, there is no chance to prove
just lying in my way, in my own way
day by day passed, no questions with the answer
amazing me, there are so lot of questions since that day
and i so scared by the shadow.

About Me

My Photo
Simple, Little bit of clean, Like something new, So interesting with New technology, Design, And Art